Di setiap kota yang tampak tenang, selalu ada suara hujan yang tak benar-benar berhenti, menetes di balik jendela moral yang terbuka separuh.
Buku ini berisi kisah-kisah tentang manusia yang bersembunyi di balik dalih kehormatan, jabatan, dan cinta. Mereka yang tersesat di simpang kekuasaan dan kepura-puraan, tetapi masih berusaha mencari secercah cahaya untuk pulang.
Melalui bahasa yang lembut dan atmosferik, cerpen-cerpen dalam Hujan di Jendela yang Tak Tertutup menyingkap wajah lain dari “kebaikan” yang kita yakini.
Tentang pejabat yang menjual nurani atas nama pengabdian, cinta yang dikorbankan demi citra, dan jiwa-jiwa kecil yang tetap menatap keluar, menunggu hujan reda, meski tahu jendela itu tak akan pernah tertutup sepenuhnya.
Sebuah refleksi lembut tentang manusia, kekuasaan, dan harga kejujuran di dunia yang makin basah oleh kebohongan.






Ulasan
Belum ada ulasan.